Realitas Sosial. Pada akhir ini, pada negara kita lagi rame-rame nya pembahasan mengenai Citayam Fashion Week. Mulai dari media sosial hingga siaran televisi nasional, semuanya membahas mengenai Citayam Fashion Week. Fenomena itu menjadi viral dikarenakan remaja-remaja Citayam tersebut mempunyai gaya fashion tersendiri yang justru kontras pada tempat nongkrong mereka yaitu kawasan Dukuh Atas yang terkesan elit.
Dari fenomena Citayam Fashion Week tersebut, kita bisa mempelajari tentang salah satu materi Sosiologi yang bisa disebut dengan Realitas Sosial. Sudah tahukah, apa yang dimaksud dari Realitas Sosial?
Pengertian Realitas Sosial
Menurut bahasanya ealitas sosial merupakan segala hal yang nyata pada kehidupan masyarakat. Dan sedangkan menurut Peter Ludwig Berger juga Thomas Luckmann yang ada pada bukunya yang berjudul “The Social Construction of Reality”, realitas sosial merupakan kualitas yang ada kaitannya dengan fenomena yang kita anggap ada pada luar kemauan kita.
Jadi, pada intinya realitas sosial merupakan segala fenomena maupun kenyataan pada masyarakat yang terjadi di luar diri kita atau bukan dari kemauan diri sendiri yang tidak dapat kita hindari.
Realitas sosial terbentuk dari situasi serta kondisi tertentu pada masyarakat. Misalnya seperti kemiskinan. Terjadinya kemiskinan pada suatu negara, bukanlah akibat dari kemauan sendiri, namun terbentuk dikarenakan konstruksi sosial, yaitu terjadi akibat dorongan dari faktor-faktor lain, contohnya seperti kurangnya lapangan pekerjaan serta pembangunan yang tidak merata. Kemiskinan tersebut kemudian menjadi dasar dengan adanya kesenjangan sosial pada masyarakat.
Dan pada Citayam Fashion Week tadi juga salah satu dari fenomena yang terbentuk akibat dari adanya kesenjangan sosial ini. Gaya berpakaian dari anak-anak Citayam ini dianggap kontras pada kawasan Dukuh Atas yang dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit dengan kesan yang elit.
Selain itu, fenomena Citayam Fashion Week ini juga membuktikan adanya pembangunan yang tidak merata, dikarenakan kalau pembangunan telah merata, seharusnya anak-anak dari Citayam ini tidak perlu jauh-jauh untuk ke Dukuh Atas hanya untuk sekedar nongkrong bersama dengan teman. Bisa jadi, pada daerah Citayam, kurang tersedianya ruang publik yang dapat menjadi tempat para remaja Citayam ini berekspresi, hingga mereka harus jauh-jauh pergi ke Dukuh Atas.
Dimensi Realitas Sosial
Realitas sosial mempunyai dua dimensi, yaitu objektif dan subjektif. Berikut ini pembahasannya.
1. Realitas Objektif
Realitas objektif merupakan kondisi yang sebenarnya ada pada masyarakat dan diterima oleh individu tanpa adanya pengaruh dari pendapat pribadi.
2. Realitas Subjektif
Realitas subjektif merupakan suatu kondisi yang terjadi pada masyarakat dan diterima oleh individu dengan adanya pengaruh pendapat pribadi, seperti ide serta opini.
Supaya semakin paham, kita ambil contoh pada kemiskinan yang tadi. Di dalam dimensi objektif, kemiskinan dianggap dengan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, bahkan juga kesehatan.
Dan sedangkan pada dimensi subjektif, seseorang bisa jadi menyebutkan dirinya tidak mampu dikarenakan tidak mempunyai kendaraan pribadi, walaupun kebutuhan dasarnya telah terpenuhi.
Proses Pembentukan Realitas Sosial
Menurut dari Peter Ludwig Berger serta Thomas Luckmann, proses dari pembentukan realitas sosial terdiri dari tiga tahap yaitu internalisasi, eksternalisasi, dan juga objektivasi.
1. Internalisasi
Internalisasi merupakan proses penerimaan berbagai nilai, norma, serta realitas lainnya yang ada pada masyarakat oleh individu yang dilakukan lewat sosialisasi. Sosialisasi merupakan proses penanaman nilai serta norma dari individu yang satu pada individu yang lainnya.
2. Eksternalisasi
Eksternalisasi merupakan proses individu yang mengekspresikan apa yang telah diterima serta dipelajari pada tahap internalisasi yang sesuai dengan penafsiran mereka sendiri.
3. Objektivasi
Objektivasi merupakan suatu proses yang terbentuk dikarenakan individu sebagai anggota masyarakat yang berulang kali melakukan kebiasaan dari tahap eksternalisasi hingga membentuk pola yang berlaku dengan umum pasa masyarakat. Objektivasi tersebutlah yang menghasilkan kondisi yang sebenarnya terjadi pada masyarakat.
Soal-soal
1. Wujud dari kebudayaan yang sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan juga sebagainya biasa disebut . . . .
a. sistem sosial
b. sistem budaya
c. sistem kepribadian
d. artefak
e. sistem nilai
2. Di bawah ini yang bukan termasuk dari unsur pokok masyarakat, adalah sebagai berikut . . . .
a. adanya orang-orang yang bekerja sama
b. bercampur dalam waktu yang cukup lama
c. adanya kesadaran sebagai satu kesatuan
d. adanya warisan biologis
e. suatu sistem kehidupan bersama
3. Faktor-faktor yang memengaruhi kepribadian merupakan sebagai berikut, kecuali . . . .
a. warisan biologis atau keturunan
b. lingkungan fisik
c. organisasi sosial
d. pengalaman kelompok
e. kebudayaan
4. Objek sosiologi adalah ….
a. benda sejarah
b. masyarakat
c. perekonomian
d. sistem politik
e. peninggalan purbakala
5. Aspek di bawah ini yang bukan termasuk bidang kajian sosiologi adalah ….
a. pengkajian demografi
b. pengkajian tingkah laku sosial
c. pengkajian institusi sosial
d. pengkajian pengaruh budaya
e. pengkajian perubahan sosial
Baca juga SMA Kelas 10 : Syarat Interaksi Sosial Pada Masyarakat