Secara umum, pengertian sosialisasi adalah suatu proses belajar-mengajar atau penanaman nilai, kebiasaan, dan aturan dalam bertingkah laku di masyarakat dari satu generasi ke generasi lainnya sesuai dengan peran dan status sosial masing-masing di dalam kelompok masyarakat. Melalui proses sosialisasi maka seseorang dapat memahami dan menjalankan hak dan kewajibannya berdasarkan peran status masing-masing sesuai budaya masyarakat. Dalam hal ini, setiap individu mempelajari dan mengembangkan pola-pola perilaku sosial dalam proses pendewasaan diri. Dengan kata lain, anggota keluarga, guru, pemuka agama, dan elemen masyarakat lainnya, memiliki peran dalam proses sosialisasi setiap individu.
PENGERTIAN SOSIALISASI MENURUT PARA AHLI
- Soejono Dirdjosisworo
Menurut Soejono Dirdjosisworo (1985), pengertian sosialisasi mengandung tiga arti, yaitu:
- Proses belajar; yaitu suatu proses akomodasi dimana individu menahan, mengubah impuls- impuls dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya.
- Kebiasaan; dalam bersosialisasi setiap individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide-ide, pola-pola nilai dan tingkah laku, dan ukuran kepatuhan tingkah laku di dalam masyarakat di mana ia hidup.
- Sifat dan kecakapan; semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan dalam diri seseorang.
- Charlotte Buhler
Menurut Charlotte Buhler, pengertian sosialisasi adalah suatu proses yang membantu anggota masyarakat untuk belajar dan menyesuaikan diri terhadap bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya, agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompok tersebut.
- Peter L. Berger
Menurut Peter L. Berger, pengertian sosialisasi adalah suatu proses seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
- Edward S. Greenberg
Menurut Greenberg, pengertian sosialisasi adalah suatu proses untuk mentransformasikan individu kepada pihak luar agar dapat ikut serta berpartisipasi secara aktif sebagai anggota suatu organisasi.
- Martin Gibson
Menurut Gibson, arti sosialisasi adalah sebuah aktivitas dari organisasi untuk mewujudkan dan mengintegrasikan tujuan organisasi maupun individu. Sehingga dari dua pengertian sosialisasi tersebut terdapat dua kepentingan yang berbeda, yakni kepentingan individu dan kepentingan organisasi.
- Robert M.Z. Lawang
Menurut Robert M. Z. Lawang, arti sosialisasi adalah proses mempelajari norma, nilai, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan berpartisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.
- Karel J. Veeger
Menurut Karel J. Veeger, pengertian sosialisasi adalah suatu proses belajar mengajar. Contoh: orang tua mendidik anaknya tata krama dan sopan santun.
- Bruce J. Cohen
Menurut Bruce J. Cohen, pengertian sosialisasi adalah proses pembelajaran seorang individu terhadap nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat sehingga seseorang menjadi bagian dari masyarakat.
TUJUAN SOSIALISASI
- Memberikan keterampilan bagi seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat.
- Mengembangkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif.
- Mengembangkan fungsi organik melalui introspeksi orang yang tepat.
- Menanamkan nilai-nilai dan keyakinan kepada seseorang yang memiliki tugas utama dalam masyarakat.
TIPE SOSIALISASI
Setiap masyarakat memiliki standar dan nilai-nilai yang berbeda. Sebagai contoh, standar ‘apakah seseorang itu baik atau tidak’ di sekolah-sekolah di berbagai kelompok sepermainan. Di sekolah, misalnya, seseorang disebut baik jika nilai tes di atas tujuh atau tidak pernah terlambat ke sekolah. Sementara di kelompok sepermainan, juga jika seseorang disebut dalam solidaritas dengan teman-teman dan saling membantu. Perbedaan standar dan nilai-nilai tidak dapat dipisahkan dari jenis yang ada sosialisasi. Ada dua jenis sosialisasi. Tipe kedua sosialisasi adalah sebagai berikut:
- Formal
Jenis sosialisasi terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang sesuai dengan peraturan yang berlaku dari negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.
- Informal
Semacam ini sosialisasi di masyarakat atau dalam hubungan keluarga, seperti antara teman, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.
FUNGSI SOSIAL DI MASYARAKAT
- Fungsi Sosialisasi Bagi Individu
Bagi individu, sosialisasi berfungsi sebagai pedoman dalam belajar mengenal dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik nilai, norma, dan struktur sosial yang ada pada masyarakat di lingkungan tersebut.
- Fungsi Sosialisasi Bagi Masyarakat
Bagi masyarakat, sosialisasi berfungsi sebagai alat untuk melestarikan, penyebaran, dan mewariskan nilai, norma, serta kepercayaan yang ada pada masyarakat. Dengan begitu, nilai, norma, dan kepercayaan tersebut dapat dijaga oleh semua anggota masyarakat.
JENIS SOSIALISASI
- Sosialisasi Primer
Sosialisasi primer merupakan proses sosialisasi yang pertamakali dilakukan oleh individu sejak masih anak-anak. Ini merupakan awal bagi semua anggota masyarakat dalam memasuki keanggotaan mereka pada suatu kelompok masyarakat. Sosialisasi primer ini dimulai dari keluarga, dimana individu mulai belajar membedakan dirinya dengan orang lain di sekitarnya. Pada tahap ini anggota keluarga memiliki peranan penting bagi masing-masing individu.
- Sosialisasi Sekunder
Sosialisasi sekunder merupakan pelajaran berikutnya yang dilakukan oleh individu. Pada tahap ini seseorang belajar mengenali lingkungannya di luar keluarga, baik itu nilai-nilai, norma, yang ada di lingkungan masyarakat. Proses sosialisasi sekunder ini bertujuan agar individu dapat menerima nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku. Pada umumnya, sosialisasi sekunder ini menjadi penentu sikap seseorang karena telah beradaptasi dengan berbagai lingkungan masyarakat.
POLA SOSIALISASI
Sosiologi dapat dibagi menjadi dua pola: sosialisasi sosialisasi represif dan partisipatoris. Sosialisasi represif (sosialisasi represif) menekankan penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Fitur lain dari sosialisasi represif adalah penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan ganjaran. Penekanan pada kepatuhan dari anak-anak dan orang tua.Penekanan pada komunikasi satu arah, nonverbal dan berisi perintah, penekanan terletak pada sosialisasi orang tua dan keinginan orang tua dan peran keluarga sebagai significant other. Sosialisasi partisipatif (sosialisasi partisipatif) adalah pola di mana anak berperilaku baik dihargai pada saat itu. Selain itu, hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi anak diberikan kebebasan. Penekanan ditempatkan pada interaksi verbal dan sosialisasi komunikasi pusat anak-anak dan kebutuhan anak-anak. Keluarga menjadi lebih umum.
PROSES SOSIALISASI
- Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat ini sedang mempersiapkan seorang anak untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri kita sendiri. Pada tahap ini anak-anak juga mulai meniru kegiatan, meskipun tidak sempurna. Contohnya adalah Kata “makan” ibu mengajar anak-anak mereka yang masih balita diucapkan “mam”. Arti kata ini juga tidak dipahami dengan baik oleh hak anak-anak. Seiring waktu anak memahami makna yang tepat dari kata-kata untuk makan dengan realitas yang mereka alami.
- Tahap Meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan anak-anak yang tidak sempurna meniru peran yang dimainkan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran nama yang tepat dan nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak-anak mulai menyadari apa yang seorang ibu dan apa yang diharapkan dari seorang ibu dari seorang anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian besar orang-orang ini adalah orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan kelangsungan hidup diri kita sendiri, dari mana anak-anak menyerap norma dan nilai. Untuk seorang anak, orang-orang ini disebut bermakna (signifikan).
- Tahap Siap Bertindak ( Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran langsung dimainkan oleh dirinya dengan hati nurani yang jelas. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain juga meningkat untuk memungkinkan kemampuan untuk bermain bersama. Dia mulai menyadari tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan hubunganya berinteraksi lebih banyak dan lebih kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman sebaya di luar rumah. Peraturan ini juga di luar keluarga secara bertahap mulai dipahami. Pada saat yang sama, anak-anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarga.
- Tahap Penerimaan Norma Kolektif ( Generalized Stage/Generalized Other)
Pada tahap ini orang tersebut dianggap sebagai orang dewasa. Dia mampu menempatkan dirinya pada posisi masyarakat luas. Dengan kata lain, ia dapat mentolerir tidak hanya oleh mereka yang berinteraksi dengan dia tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama – bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga negara dalam arti sepenuhnya.
MEDIA SOSIALISASI DI MASYARAKAT
- Keluarga
Keluarga merupakan media sosialisasi yang pertamakali diterima oleh setiap individu. Anggota keluarga diantaranya, ayah, ibu, saudara, dan lain-lain, saling berinteraksi. Di sinilah pertamakali individu mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan.
- Teman
Setelah keluarga, proses sosialisasi terjadi melalui teman. Ketika anak-anak berinteraksi dengan teman sebayanya, terjadi proses sosialisasi dan mempelajari nilai dan norma yang baru.
- Sekolah
Lembaga pendidikan merupakan tempat proses sosialisasi yang memberikan pengaruh yang sangat besar bagi semua orang. Pada umumnya, semua orang belajar dan melatih keterampilan dan kemandiriannya. Selain itu, interaksi dengan teman sebaya juga sering terjadi di sekolah.
- Media Massa
Proses sosialisasi juga dapat terjadi melalui media massa atau pers, baik itu media cetak maupun media elektronik. Melalui media massa, setiap individu dapat mempelajari berbagai informasi baru yang belum diketahui, baik itu hal positif maupun negatif.
CONTOH SOSIALISASI
- Sosialisasi di Keluarga
Proses sosialisasi di keluarga terjadi ketika anggota keluarga saling berinteraksi satu sama lain. Misalnya saat makan malam bersama, saat nonton TV bersama, atau diskusi keluarga. Orang tua biasanya pertamakali menyampaikan hal-hal yang perlu diketahui oleh anak-anak mereka. Contoh, orang tua memberikan nasehat atau arahan tentang cara berperilaku di sekolah.
- Sosialisasi di Masyarakat
Proses sosialisasi juga sering terjadi di lingkungan masyarakat. Misalnya ketika berdiskusi dengan tetangga, melakukan kerja bakti bersama, semua ini merupakan proses sosialisasi.
- Sosialisasi di Sekolah
Pada saat guru berinteraksi dengan para murid dan menjelaskan tentang pelajaran, ini merupakan proses sosialisasi. Selain itu, proses sosialisasi juga terjadi ketika para murid bertanya pada guru atau memberikan jawaban tentang pelajaran di sekolah.
PENGERTIAN KEPRIBADIAN
- Koentjaraningrat mendeskripsikan kepribadian sebagai ciri-ciri dan watak yang diperlihatkan secara konsisten dan konsekuen sehingga seseorang memiliki identitas yang khas dan berbeda dari individu lainnya.
- Yinger mengatakan bahwa kepribadian merupakan keseluruhan perilaku dari individu dengan kecenderungan tertentu dalam situasi tertentu.
- Roucek dan Warren mendefinisikan kepribadian sebagai ogranisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku individu.
- Theodore R. Newcombe mengartikan kepribadian sebagai predisposisi atau pengorganisasian sikap yang dimiliki individu sebagai latar belakang perilaku.
- Sutherland dkk mendefinisikan kepribadian sebagai abstraksi individu dan tingkah lakunya dalam hubungannya dengan masyarakat dan kebudayaan.
FAKTOR PEMBENTUK KEPRIBADIAN
- Faktor Biologis
Faktor biologis sebagai pembentuk kepribadian selalu diragukan dalam sudut pandang sosiologi. Namun pada kenyataanya, dalam masyarakat beredar opini bahwa karakter fisik tertentu membentuk kepribadian tertentu. Misal, orang yang kepalanya besar dianggap cerdas, orang yang rambutnya keriting calon orang sukses, orang yang kepalanya kotak kriminal. Tak perlu tersinggung dengan contoh tersebut karena semua itu mitos. Faktor biologis dianggap memiliki kontribusi pada pembentukan kepribadian khususnya berhubungan dengan keturunan. Seringkali kita mendengar ungkapan bahwa ”buah tak jatuh jauh dari pohonnya”. Seorang anak tentara yang tegas, keras dan disiplin membuat para tetangga tak heran. Mereka langsung berpikir itu karena pengaruh orang tuanya. Singkatnya, anak dilihat sebagai cerminan orang tua. Kepribadian anak diturunkan dari orang tua. Lagi-lagi kita tidak bisa semerta-merta percaya pada pandangan ini. Faktor biologis sebagai pembentuk kepribadian sangat problematis.
- Faktor Geografis
Satu level diatas faktor biologis adalah faktor geografis. Penjelasan faktor geografis lebih masuk akal meskipun biasanya pembelajar sosiologi tidak tertarik mendalami faktor ini. Pengaruh faktor geografis bisa dilihat dari perbedaan kepribadian antara individu atau kelompok masyarakat yang tinggal di lokasi dengan karakteristik yang berlainan. Misal, kita menemukan bahwa orang pantai cenderung lebih bersikap terbuka pada orang asing, ketimbang orang gunung. Iklim, temperatur, kondisi topografis tanah seringkali dianggap memiliki pengaruh besar pada pembentukan kepribadian. Orang yang tinggal di kutub memiliki kepribadian yang berbeda dengan orang yang tinggal di daerah tropis. Perbedaannya seperti apa terbuka untuk diperdebatkan. Sekali lagi perbedaan kepribadian tersebut merupakan kecenderungan umum.
- Faktor Psikologis
Faktor ini sedikit menarik perhatian para sosiolog. Faktor psikologis sebagai pembentuk kepribadian berhubungan dengan pengalaman unik yang dialami oleh individu. Pengalaman unik tersebut memengaruhi kondisi emosional dan mental individu sehingga membentuk suatu kepribadian tertentu. Pengalaman unik bisa positif, bisa pula negatif. Contoh faktor psikologis yang bisa saya paparkan disini adalah trauma karena peristiwa tertentu. Misalnya, korban begal mengalami trauma naik motor sendirian pada malam hari. Ia menjadi pribadi yang lebih pendiam karena diselimuti rasa takut setelah peristiwa yang dialaminya. Kondisi psikologis korban begal membentuk kepribadian korban menjadi lebih pendiam.
- Faktor Budaya
Unsur-unsur kebudayaan secara langsung memengaruhi pola perilaku individu. Kegiatan sehari-hari yang membentuk suatu kultur juga dapat memengaruhi kepribadian individu. Contoh, kebudayaan masyarakat Minangkabau yang suka merantau dan jualan, membentuk kepribadian orang Minangkabau untuk terbuka pada orang-orang baru yang ditemuinya. Contoh lain lagi, kebiasaan seseorang melakukan solo travelling, membentuk kepribadian orang tersebut untuk berani mengambil resiko dan tidak malu memulai pembicaraan dengan orang asing. Kultur travelling telah membentuk kepribadian seorang traveller yang konon katanya mempunyai hasrat besar untuk menjelajah tempat-tempat baru. Kebiasaan selalu membentuk kultur, lalu kultur itu memengaruhi atau membentuk kepribadian.
- Faktor Sosial
Faktor sosial yang dimaksud di sini adalah pengalaman-pengalaman dalam pergaulan. Pergaulan tidak hanya dengan teman, tetapi bisa juga dengan buku, film, website, dan sebagainya. Dalam kehidupan sosial, kita senantiasa menjalani pergaulan dengan individu atau kelompok tertentu. Lingkungan sosial berupa pergaulan memiliki pengaruh pada para anggotanya. Teman kita, misalnya, memiliki nilai atau keyakinan tertentu yang ia anut dalam keseharian. Nilai tersebut tersosialisasikan, baik sengaja atau pun tidak dalam pergaulan kepada diri kita. Dalam pergaulan, ada tokoh atau kelompok yang biasanya dijadikan acuan. Ambil contoh, lingkungan pergaulan yang membentuk kepribadian individu pada mulanya adalah keluarga. Seiring waktu, seorang anak memiliki teman bergaul, di sekolah, di rumah, atau di manapun ia bergaul. Lingkungan sosial pertemanan mulai mengambil alih peran dominan keluarga. Pasca sekolah, ia kuliah atau kerja, maka lingkungan sosial dan pergaulannya berubah lagi. Masing-masing lingkungan sosial memiliki nilai-nilai yang kecenderungannya berbeda. Misalnya, seorang anak dilahirkan dalam keluarga taat agama. Anak tersebut awalnya dikenal religius. Ketika kuliah, membaca Das Kapital sehingga kepribadiannya kekiri-kirian. Setelah lulus, ia mendalami filsafat agama sehingga menjadi juru bicara liberalisme. Lalu, usia paruh bayanya dihabiskan untuk mencari uang dengan bergaul dengan kaum kapitalis. Ketika tua ia bergaul dengan penjual parfum biar kecipratian wanginya. Kepribadian orang tersebut berubah-ubah tergantung seperti apa lingkungan sosialnya.